Pondok Pesantren Kifaayatul Akhyaar

Terletak di Jalan Pangauban KM2, Kp Sukasari, Desa Pakuwon, Kec Cisurupan Kab Garut.

Galeri 1

Acara Alumni Tahun 2013.

Galeri 2

Acara Alumni Tahun 2013.

Galeri 3

Acara Alumni Tahun 2013.

K.H Meded Sopandi

Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Kifaayatul Akhyaar.

Random Posts

Saturday, July 26, 2014

Pesantren NU di tengah-tengah kontestasi politik


Oleh : Novan Rahardi

Pesantren sebagai institusi pendidikan Islam memiliki peranan penting sebagai soko guru agen pencerdasan bangsa. Pesantren dianggap oleh sebagian besar masyarakat sebagai sekolah alternatif yang mampu membuat nyata mimpi-mimpi sebagian besar para orang tua. Para orang tua murid yang tinggal di berbagai pelosok pedesaan menjadi pasrah karena saat ini institusi pendidikan kita banyak menyelenggarakan komersialisasi di bidang pendidikan. Hal ini disebabkan oleh karena kurang meratanya aspek pendidikan ke pelosok daerah tertinggal dan pengagungan nilai-nilai materialisme institusi pendidikan. Sebagian besar orangtua menaruh perhatian besar kepada putra-putri mereka agar kelak suatu saat nanti menjadi manusia yang berguna, sukses dunia dan akhirat.
Meskipun telah banyak institusi keagamaan yang hadir di Indonesia, pesantren boleh jadi pilihan alternatif dari sekian banyak sekolah negeri dan swasta. Pada pelaksanaannya, untuk mewujudkan pesantren sebagai kegiatan pendidikan yang ideal haruslah memiliki kriteria utama seperti terdapatnya fasilitas belajar mengajar yang memadai. Menilik permasalahan pendidikan di pesantren menjadi sesuatu hal yang penting sebagai pilar utama penyangga keberhasilan para santriwan-santriwati di masa depan. Sistem pendidikan pesantren telah lama menerapkan sistem pendidikan konservatif. Namun, pesantren juga telah lama survive dalam sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia. Ia telah terbukti banyak memberi sumbangan bagi upaya mewujudkan idealisme sistem pendidikan nasional yang bukan sekadar hanya meningkatkan kualitas SDM (human resource) semata pada aspek penguasaan sains dan teknologi melainkan juga lebih berperan dalam mencetak warga negara Indonesia yang mewakili ketakwaan kepada Tuhan YME, terutama untuk memupuk generasi bermoral baik.
Pesantren identik dengan Nahdlatul Ulama (NU) bahkan NU pun lahir dari perkumpulan kyai-kyai pesantren yang menggagas terbentuknya wadah organisasi sosial keagamaan masyarakat berazaskan Ahlusunnah Wal Jamaah. Sejak lahirnya NU  pada tahun 1926, ormas Islam terbesar itu mengadakan muktamar atau kongres yang diadakan tiap lima tahun sekali dengan tujuan untuk melahirkan pemimpin NU sesuai instruksi yang diberikan oleh para kyai sepuh.
Muktamar NU ke-31 di Boyolali menjadi harapan para warga nahdliyin untuk tercapainya suksesi pemilihan ketua umum dan persaingan antar kandidat. Persaingan itu sempat membingungkan warga ‘kaum sarungan’. Pasalnya, hal ini disebabkan karena terfragmentasinya warga NU oleh kalangan elit NU sendiri dan terdapatnya kekurangkonsistenan proses pendidikan politik.
Di tengah-tengah berlangsungnya acara Muktamar NU ke-31 di Boyolali, terdapat banyak sekali kesenjangan-kesenjangan yang hadir mewarnai sikap warga nahdliyin. Muktamirin yang diundang dari berbagai pelosok nusantara memiliki berbagai latar belakang yang berbeda-beda, latar belakang kesenjangan ekonomi, perbedaan pendidikan dan kultur masing-masing peserta muktamirin dianggap menjadi sesuatu hal yang lumrah.
Keadaan ini diduga karena banyak terdapat ketidakmerataan koordinasi antar elit NU, antara pengurus wilayah NU dengan pengurus pusat. Sangat ironis ketika kemerataan koordinasi antar elit NU hanya terjadi manakala pengurus wilayah NU bersowan ke pengurus besar NU. Inilah yang terjadi pada kepengurusan PBNU kemarin, sehingga tidak dipungkiri lagi kemenangan Hasyim Muzadi menjadi hal yang tak asing lagi. Selain itu terdapat hal yang mempengaruhi kesenjangan peserta muktamirin, yakni, masih lekatnya egosentrisme pengurus wilayah. Sifat egosentrisme wilayah terjadi karena adanya beragam patron kyai NU yang cenderung memihak satu sama lain. Selain itu hal ini disebabkan juga karena adanya perbedaan pendapat kyai sepuh yang tergabung membentuk poros-poros wilayah tertentu.
Perhelatan yang mewarnai muktamar hanyalah perhelatan yang terjadi di antara kalangan elit NU, perhelatan ini dianggap tidak mempengaruhi sikap warga nahdliyin dikarenakan kultur NU yang telah melekat sejak dulu dicintai dan dimaknai sendiri oleh warga nahdliyinTantangan terbesar kalangan elit NU saat ini adalah bagaimana meningkatkan taraf hidup masyarakat. Warga NU sepakat ketika terjadi peningkatan taraf hidup NU, maka akan terjadi pula peningkatan derajat pendidikan, sebab,  salah satu akibat keterpurukan ekonomi masyarakat adalah ketertinggalan dari sudut pendidikan.
Di tengah pergulatan menuju masyarakat informasi, pesantren diharapkan merambahi ruang kontestasi dengan institusi pendidikan lainnya. Terlebih dengan sangat maraknya institusi pendidikan berlabel luar negeri yang menambah semakin  ketatnya persaingan mutu lulusan pesantren. Di tengah-tengah kompetisi yang ketat itu, sangat penting untuk memposisikan pesantren dalam mempertaruhkan kualitas out-put  pendidikannya agar tetap unggul dan menjadi pilihan masyarakat terutama peningkatan kualitas pendidikan umat Islam.
Peningkatan kualitas pesantren diharuskan adanya perubahan ke arah pembaharuan dalam pelbagai aspek pendidikan agama. Pembaharuan pada kurikulum, sarana-prasarana tenaga pengajar, pengelolaan dan sistem evaluasi aspek-aspek lainnya. Jika aspek-aspek pendidikan pesantren kurang mendapatkan perhatian yang proporsional untuk segera dimodernisasi dan disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat (social needs & demand) tak heran masyarakat akan semakin tidak tertarik dan lambat laun akan meninggalkan institusi pendidikan pesantren. Kemudian akan lebih memilih institusi pendidikan yang lebih menjamin kualitas lulusannya. Pada taraf ini, pesantren berhadapan dengan dilema antara tradisi dan modernisasi.
Rasa kebutuhan akan pendidikan membuat orang-orang yang mengemudikan pendidikan nasional hanya mementingkan aspek-aspek teknologis pada proses belajar mengajar. Ekspektasi pendidikan ini akan jelas jika pendidikan nasional diproyeksikan kepada upaya mengembangkan kebudayaan bangsa dan negara. Sebenarnya pula kecintaan pada kebudayaan kita merupakan cara hidup sebagai bangsa secara total, dalam tata pergaulan internasional yang tak hanya berdasarkan perkembangan teknologi saja, melainkan pengembangan terhadap bidang-bidang kehidupan lainnya.
Peran Kaum Muda NU
Kembali kepada perhelatan hasil muktamar NU, ditengah-tengah berlangsungnya acara Muktamar, warga NU dihimbau agar tidak terjebak pada perilaku politik praktis, meski NU tak melarang individu-individu warganya terjun ke dunia politik sesuai haknya sebagai warga negara, tetapi hendaknya mereka tetap harus terus memperhatikan khittah  NU sebagai landasan berpikir, bersikap, dan bertindak. Sebab, tanpa memperhatikan khittahtersebut jelas akan membuat kerenggangan diantara warga NU.
Keterlibatan warga NU baik yang disengaja maupun tidak sengaja dalam politik praktis seperti yang sekarang menjadi isu hangat, dinilai oleh Rais Aam terpilih KH. Sahal Mahfudz bahwasanya kalangan elit NU yang dengan sengaja melibatkan diri terjun ke dunia politik, semata-mata karena individu tersebut tidak disertai sikap kenegarawanan dan kurangnya penguasaan yang memadai terhadap seluk-beluk politik, ditambah lagi dengan sikap yang tidak begitu peduli terhadap garis-garis instruksi organisasi seperti pedoman berpolitik yang diputuskan Muktamar ke-28 di Yogyakarta lalu. Praktek politik yang terjadi di kalangan struktural NU dilakukan oleh para pribadi-pribadi yang memanfaatkan dukungan mayoritas suara warga NU dan hal ini disinyalir tidak memperhatikan khittah NU secara keseluruhan ditujukan kepada maslahat bersama. Akibatnya keterlibatan itu lebih banyak hanya menghabiskan energi dan seringkali secara psikologis menyebabkan sifat saling berkuasa di antara warga NU.
NU,  sesuai dengan khittah-nya, meski memfokuskan diri hanya pada politik kebangsaan dengan bertujuan untuk menjaga keutuhan NKRI dan murni hanya membela rakyat, bertujuan untuk tidak mengarah kepada politik kekuasaan atau politik praktis. Hal inilah yang banyak menuai protes di kalangan muda NU ketika Hasyim Muzadi mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden berpasangan dengan calon presiden Megawati, hal ini dikhawatirkan mengundang perasaan bersama bahwa NU sudah tidak punya arti lagi ketika dengan mudahnya terseret dalam kontestasi politik kenegaraan. Apalagi, kontestasi itu dipakai oleh sejumlah pengurus dari pusat sampai ke daerah dengan menggunakan nama NU. Terlepas dari dinamika politik NU saat ini ialah bagaimana ormas Islam terbesar itu sejatinya mengayomi warganya baik yang berada di dalam organisasi maupun di luar organisasi untuk mencapai kesejahteraan lahir maupun bathin, serta ketersenjangan antara kaum elit dan kaum papa hendaknya dihapuskan. Berbagai aksi protes yang dilancarkan oleh kaum muda NU pada pelaksanaan acara muktamar berlangsung menjadi fokus utama para wartawan yang meliputi acara besar itu. Kaum muda NU tak henti-hentinya berdemonstrasi mengingatkan para petinggi NU untuk lebih memperhatikan aspirasi umatnya. Hal ini wajar sebagai penyeimbang proses demokratisasi kaum Nahdliyin yang menuntut perbaikan menyeluruh di segala bidang perekonomian rakyat dan semata-mata menghimbau kalangan elit agar tidak melulu mengurusi politik kekuasaan.
Kalau akan lebih dikonkretkan lagi, kaum muda NU menghendaki tercapainya kontrol sosial yang efektif atas jalannya pemerintahan, sehingga memungkinkan tercapainya proses pembangunan nasional yang berwatak partisipatif masyarakat secara komprehensif. Selain itu juga kaum muda menekankan pentingnya muktamar sebagai media sillaturrahim wargaNahdliyin seluruh nusantara sekaligus sebagai ajang pencarian figur pemimpin yang kelak melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan ormas Islam terbesar yang sesuai dengan khittah 1926 sebagai asas lahirnya organisasi ‘kaum sarungan’ itu.
Kaum muda NU menyatakan sudah tidak tertarik lagi menduduki jabatan struktural NU. Mereka lebih mementingkan nasib bangsa Indonesia untuk keluar dari berbagai macam krisis dengan cara melakukan pemberdayaan umat secara ekonomis dan peningkatan yang berarti institusi pendidikan secara kultural. Kaum muda lebih berpandangan objektif terhadap permasalahan bangsa ini, sebagian besar umat Islam hidup berada di bawah garis kemiskinan, bahkan banyak diantaranya kelaparan. Sementara perkembangan kemajuan dunia global sudah begitu jauh berlari meninggalkan negara kita.
Oleh karena itu lewat jalur pendidikanlah berbagai  ketimpangan yang dijumpai bangsa saat ini dapat menjawab tantangan global dan menelurkan jawaban-jawaban solutif tanpa harus meninggalkan aspek kebudayaan. Kaum muda dengan posisinya sebagai salah satu parameter penentu arah kebijakan organisasi NU bertujuan agar dapat dipertanggungjawabkan secara intelektual untuk melakukan apa yang sebenarnya diharapkan oleh banyak orang di tanah air.

Membaca Shalawat untuk Nabi

    Membaca shalawat adalah salah satu amalan yang disenangi orang-orang NU, disamping amalan-amalan lain semacam itu. Ada shalawat “Nariyah”, ada “Thibbi Qulub”. Ada shalawat “Tunjina”, dan masih banyak lagi. Belum lagi bacaan “hizib” dan “rawatib” yang tak terhitung banyaknya. Semua itu mendorong semangat keagamaan dan cita-cita kepada Rasulullah sekaligus ibadah.


Salah satu hadits yang membuat kita rajin membaca shalawat ialah: Rasulullah bersabda: Siapa membaca shalawat untukku, Allah akan membalasnya 10 kebaikan, diampuni 10 dosanya, dan ditambah 10 derajat baginya. Makanya, bagi orang-orang NU, setiap kegiatan keagamaan bisa disisipi bacaan shalawat dengan segala ragamnya.

Salah satu shalawat yang sangat popular ialah “Shalawat Badar”. Hampir setiap warga NU, dari anak kecil sampai kakek dan nenek, dapat dipastikan melantunkan shalawat Badar. Bahkan saking populernya, orang bukan NU pun ikut hafal karena pagi, siang, malam, acara dimana dan kapan saja “Shalawat Badar” selalu dilantunkan bersama-sama.

Shalawat yang satu ini, “shalawat Nariyah”, tidak kalah populernya di kalangan warga NU. Khususnya bila menghadapi problem hidup yang sulit dipecahkan maka tidak ada jalan lain selain mengembalikan persoalan pelik itu kepada Allah. Dan shalawat Nariyah adalah salah satu jalan mengadu kepada-Nya.

Salah satu shalawat lain yang mustajab ialah shalawat Tafrijiyah Qurtubiyah, yang disebut orang Maroko shalawat Nariyah karena jika mereka (umat Islam) mengharapkan apa yang dicita-citakan, atau ingin menolak apa yang tidak disuka, mereka berkumpul dalam satu majelis untuk membaca shalawat Nariyah ini sebanyak 4444 kali, tercapailah apa yang dikehendaki dengan cepat bi idznillah. Shalawat ini juga oleh para ahli yang tahu rahasia alam. 

Imam Dainuri memberikan komentarnya: Siapa membaca shalawat ini sehabis shalat (fardlu) 11 kali digunakan sebagai wiridan maka rejekinya tidak akan putus, disamping mendapatkan pangkat/kedudukan dan tingkatan orang kaya. (Khaziyat al-Asrar, hlm 179)

Simak sabda Rasulullah SAW berikut ini:


وَأخْرَجَ ابْنُ مُنْذَة عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ الله عَنهُ أنّهُ قال قال َرسُوْلُ اللهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ: مَنْ صَلّى عَلَيَّ كُلّ يَوْمٍ مِئَة مَرّةٍ – وَفِيْ رِوَايَةٍ – مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي اليَوْمِ مِئَة مَرّةٍ قَضَى اللهُ لَهُ مِئَة حَجَّةٍ – سَبْعِيْنَ مِنْهَا في الأخِرَةِ وَثَلاثِيْنَ فِي الدُّنْيَا – إلى أنْ قال – وَرُوِيَ أن النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عليه وسلم قال : اكْثَرُوا مِنَ الصَّلاةِ عَلَيَّ فَإنّهَا تَحِلُّ اْلعَقْدَ وَتَفْرجُ الكُرَبَ – كَذَا فِيْ النزهَةِ

Hadits Ibnu Mundah dari Jabir, ia mengatakan: Rasulullah SAW bersabda: Siapa membaca shalawat kepadaku 100 kali maka Allah akan mengijabahi 100 kali hajatnya; 70 hajatnya di akhirat, dan 30 di dunia. Sampai kata-kata … dan hadits Rasulullah yang mengatakan: Perbanyaklah shalawat kepadaku karena dapat memecahkan masalah dan menghilangkan kesedihan. Demikian seperti tertuang dalam kitab an-Nuzhah

Rasulullah di alam barzakh mendengar bacaan shalawat dan salam dan dia akan menjawabnya sesuai jawaban yang terkait dari salam dan shalawat tadi. Seperti tersebut dalam hadits. Rasulullah SAW bersabda: Hidupku, juga matiku, lebih baik dari kalian. Kalian membicarakan dan juga dibicarakan, amal-amal kalian disampaikan kepadaku; jika saya tahu amal itu baik, aku memuji Allah, tetapi kalau buruk aku mintakan ampun kepada Allah. (Hadits riwayat Al-hafizh Ismail Al-Qadhi, dalam bab shalawat ‘ala an-Nabi).

Imam Haitami dalam kitab Majma’ az-Zawaid meyakini bahwa hadits di atas adalah shahih. Hal ini jelas bahwa Rasulullah memintakan ampun umatnya (istighfar) di alam barzakh. Istighfar adalah doa, dan doa Rasul untuk umatnya pasti bermanfaat.

Ada lagi hadits lain. Rasulullah bersabda: Tidak seorang pun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah akan menyampaikan kepada ruhku sehingga aku bisa menjawab salam itu. (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah. Ada di kitab Imam an-Nawawi, dan sanadnya shahih)

KH Munawwir Abdul Fattah
Pengasuh Pesantren Krapyak, Yogyakarta

Sejarah Nu

   



     Kalangan pesantren gigih melawan kolonialisme dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatut Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916. Kemudian tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran)sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Selanjutnya didirikanlahNahdlatut Tujjar, (Pergerakan Kaum Sudagar) yang dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagi kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.
Sementara itu, keterbelakangan, baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan Kebangkitan Nasional. Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana--setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain, sebagai jawabannya,  muncullah berbagai organisai pendidikan dan pembebasan.
Ketika Raja Ibnu Saud hendak menerapkan asas tunggal yakni mazhab wahabi di Mekah, serta hendak menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam maupun pra-Islam, yang selama ini banyak diziarahi karena dianggap bi'dah. Gagasan kaum wahabi tersebut mendapat sambutan hangat dari kaum modernis di Indonesia, baik kalangan Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan, maupun PSII di bahwah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman, menolak pembatasan bermadzhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut.
Sikapnya yang berbeda, kalangan pesantren dikeluarkan dari anggota Kongres Al Islam di Yogyakarta 1925, akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu'tamar 'Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekah yang akan mengesahkan keputusan tersebut.
Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebsan bermadzhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamai dengan Komite Hejaz, yang diketuai oleh KH. Wahab Hasbullah.
Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia, Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya hingga saat ini di Mekah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan madzhab mereka masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat berharga.
Berangkat dari komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kiai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy'ari sebagi Rais Akbar.
Untuk menegaskan prisip dasar orgasnisai ini, maka KH. Hasyim Asy'ari merumuskan Kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam Khittah NU , yang dijadikan dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.

Perpisahan PPL dari MA Alfalah Nagreg


Kegiatan Halal Bihalal Tahun 2013